Senin, 9 Juni 2014

Assalamualaikum Wr. Wb.

Gegap gempita perayaan “The Grand Launching of Telkom Foundation” telah berlalu. Kini, yang tersisa dari peristiwa bersejarah itu adalah pertanyaan “what next”? Apa yang akan kita lakukan dengan nama “Telkom Foundation”, dan bagaimana kita akan mewujudkan slogan “Building The Civilization”, merupakan dua pekerjaan besar yang telah menunggu kita.
 
Saya percaya bahwa jika kita ingin membuat sesuatu yang besar, maka kita harus memulainya dengan melakukan hal kecil. Karena ketika hal kecil itu saling menyatu, dia akan menghasilkan sesuatu yang besar. Komunitas masyarakat di negara ini misalnya, merupakan sesuatu yang kecil. Akan tetapi, dengan keguyuban dan kesamaan visi, mereka dapat memengaruhi kebijakan pemerintah, dan bahkan mengubah hidup sekelompok orang. Sekarang adalah masa di mana masyarakat memegang kendali atas tatanan kehidupan.
 
Hal yang sama juga berlaku untuk Telkom Foundation. Walaupun Telkom Foundation “hanya” sebuah yayasan pendidikan, peluangnya untuk menciptakan masyarakat dengan kebudayaan baru di Indonesia sangatlah besar. Namun, kita harus mengawalinya dengan menjadikan diri kita sendiri sebagai manusia berbudaya dan beradab. Sebagaimana yang Mahatma Gandhi katakan, “Anda harus menjadi perubahan yang ingin Anda lihat di dunia”.
 
Apakah kita sudah menjadi manusia yang beradab? Silakan tanya diri kita masing-masing. Di mata saya, orang yang beradab adalah orang yang punya integritas. Dia jujur, konsisten, bekerja keras, bertanggung jawab, dan tidak akan berkhianat. Persis seperti peradaban yang ingin yayasan ini bangun di masa depan. Oleh karena itu, saya sangat berharap yayasan ini akan menjadi komunitas yang dipenuhi oleh orang-orang dengan pribadi seperti itu.
 
Saya tidak mengatakan bahwa saat ini individu-individu di yayasan tidak punya integritas. Jika dianalogikan, anggota-anggota yayasan saat ini sebagian masih berupa “intan”. Sementara yang diperlukan Telkom Foundation untuk membangun peradaban adalah “berlian”. “Intan-intan” ini masih harus banyak “diasah” oleh friksi dan tantangan untuk menjadikannya sebagai “berlian”.
 
Dengan menjadi “berlian”, insan-insan Telkom Foundation akan berkilau di manapun dia berada. Ketika dia bergabung dengan komunitas lain, dia akan tetap membawa nilai-nilai yang yayasan ini tanamkan, dan menularkannya kepada lingkungan di sekitarnya. Saat itulah penularan kebudayaan terjadi, dan sebuah peradaban pun terbangun.
 
Wassalamualaikum Wr. Wb.
 
 
 

Johni Girsang, M.Sc.

Leave a Reply

Your email address will not be published.